YUK SELAMATKAN BUMI

12 Oktober 2019 - 14.21 WIB

Sampah dan limbah menjadi persoalan serius di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Usaha untuk menyelesaikan persoalan ini terus dilakukan baik oleh pemerintah, organisasi maupun individu-individu. Nah, di Kick Andy kali ada cerita inspiratif dari orang-orang yang mengolah sampah dan limbah menjadi produk yang bernilai. Di Yogyakarta ada XLab yang dirikan pada tahun 2014 oleh lima orang perempuan yang terdiri dari, Irene Agrivina Widyaningrum, Ratna Djuwita, Eka Jayani Ayuningtias, Asa Rahmana dan, Atinna Rizqiana. Mereka ingin berkontribusi pada persoalan lingkungan salah satunya limbah pengolahan tahu di Srandakan, Bantul, Yogyakarta. Mereka mengolah limbah tahu menjadi nata de soya yang menjadi bahan untuk membuat tas, sepatu, baju dan aksesoris lain. Berkat kegiatannya ini XXLab meraih penghargaan di Prix Ars Electronica 2015, sebuah kompetisi internasional tahunan untuk seni, teknologi, dan masyarakat yang berpusat di Linz, Austria. Harapan mereka, temuan ini bisa mengurangi pencemaran dan memberi nilai ekonomi terhadap limbah tahu.

Ditantang mencari solusi dalam mengurangi limbah plastik oleh orang luar negeri dalam sebuah acara seminar tentang lingkungan yang digelar di Barcelona, Spanyol, Suwolo Otobrisman langsung berinovasi membuat seni rupa yang inovatif berupa lukisan kolase dari limbah sampah kemasan. Karya lukis yang dibuat Suwolo selama tiga hari itu, sontak membuat kagum peserta seminar yang datang dari berbagai negara. Sejak saat itu, Suwolo yang merasa prihatin karena Indonesia disebut sebagai negara penghasil limbah terbesar di dunia, mulai menekuni seni lukis dari limbah sampah kemasan sebagai salah satu cara mengurangi sampah plastik. Sampai saat ini, Suwolo sudah membuat kurang lebih 100 lukisan dari sampah kemasan. Bahkan, sebagian karyanya ada yang dipamerkan di sejumlah negara diantaranya Jepang, Afrika Selatan dan sejumlah negara Eropa.

Di Malang, Jawa Timur, Yunita Lestari dan anggota Cantuka Kreatif mengolah sampah popok bayi menjadi berbagai macam kerajinan tangan yang cantik dan bermanfaat, seperti pot bunga, tempat lilin, hiasan, hingga kertas daur ulang yang ramah lingkungan dan lebih kuat dibandingkan kertas biasa. Untuk bahan baku popok bayi diperoleh dari bank diapers yang menampung hasil cucian popok dari ibu-ibu yang memiliki balita. Cantuka Kreatif tidak memungut limbah popok bayi dari sungai atau tempat sampah. Yunita mengaku bangga dengan produk yang dihasilkan. Selain berkreasi dan menghasilkan benda bernilai ekonomis, Cantuka Kreatif juga telah berusaha melestarikan lingkungan.

Isu sampah dan pencemaran lingkungan sudah mengusik Vania Santoso sejak lama. Ia mengaku pernah merasakan tidak enaknya kebanjiran pada awal 2000-an. Saat itu, Vania yang berdomisili di Surabaya tersadar kalau yang menyebabkan banjir adalah kita sendiri. Pada 2005, Vania membuat komunitas lingkungan bersama kakaknya, Agnes Santoso, yang akhirnya setahun kemudian diresmikan jadi Yayasan AV Peduli. Yayasan ini menjadi wadah anak muda, agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat di bidang lingkungan, dengan cara yang anak muda juga. Diantaranya dengan membuat kaset lagu lingkungan, peragaan busana daur ulang di jalan raya, dan sebagainya. Berkat kegiatanya, kakak beradik ini berhasil keluar sebagai juara pertama Lomba Lingkungan Internasional Volvo Adventure di Swedia. Kompetisi yang diadakan PBB dan Volvo ini memberi pendanaan proyek sebesar USD 10 ribu atau sekitar Rp 145 jutaan. Dengan dana itu, Vania dan Agnes mencari ide untuk melanjutkan kegiatan sosialnya. Ide cemerlang untuk mengolah karung semen jadi produk berbasis sustainable fashion berhasil diterima pasar dengan baik dengan nama heySTARTIC. Kini, heySTARTIC stabil berdiri sebagai social enterprise yang punya nama. Dalam proses pengolahan, heySTARTIC melibatkan banyak pihak. Mulai dari warga binaan untuk mengumpulkan sampah, mitra bank sampah, sampai pabrik makanan untuk diambil limbah kardusnya. Lewat kegiatannya Vania memperoleh sejumlah penghargaan. Vania Santoso, menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB 2019 yang diselenggarakan di New York Amerika Serikat.